#SerisejarahKUHPbelanda
Kodifikasi hukum pidana di Belanda pada akhir abad ke-19 merupakan salah satu tonggak sejarah hukum paling krusial yang tidak hanya mengubah ruang lingkup peradilan domestik, melainkan juga mentransformasi sistem hukum di wilayah jajahan melalui asas konkordansi. Artikel hukum berseri ini menguraikan secara kronologis proses pembentukan Wetboek van Strafrecht (WvS) Belanda sepanjang tahun 1870 hingga 1887. Melalui pendekatan sejarah hukum, rangkaian artikel ini bertujuan untuk memetakan akar genealogi, filosofi, serta substansi dogmatik yang membentuk karakteristik Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indië (WvSNI), yang hingga kini menjadi fondasi utama dalam memahami evolusi substansi KUHP di Indonesia.
Pembahasan
I.
Proses Kodifikasi dan Pengesahan Wetboek van Strafrecht (1870–1886)
Kodifikasi
Wetboek van Strafrecht (KUHP Belanda) yang pada akhirnya disahkan
melalui undang-undang tertanggal 3 Maret 1881 (Stbl. no. 35) melewati
fase pembentukan yang sangat panjang dan komplek. Langkah monumental ini dimulai
pada 28 September 1870 melalui penerbitan Keputusan Diraja (Koninklijk
Besluit) no. 21. Di bawah tanda tangan Menteri Kehakiman Mr. F. G. R. H.
van Lilaar, dibentuk sebuah Komisi Negara (Staatscommissie) yang
dimandatkan untuk menyusun rancangan undang-undang hukum pidana baru.
Komisi
Negara ini dipimpin oleh Mr. J. de Wal selaku Ketua dan A. A. de Pinto sebagai
Sekretaris. Adapun anggotanya terdiri atas para ahli hukum terkemuka pada masa
itu, yaitu W. F.G.L. François, M. S. Pols, dan A. E. J. Modderman. Struktur
organisasi komisi kemudian diperkuat dengan diangkatnya Jhr. Mr. G. J. Th.
Beelaerts van Blokland sebagai asisten sekretaris (Adjunct-Secretaris)
pada 18 Maret 1871. Dinamika keanggotaan sempat terjadi ketika W. F.G.L.
François mengundurkan diri secara hormat pada 30 Mei 1872, yang posisinya
kemudian digantikan oleh Mr. J. J. Loke.
Setelah
melakukan kajian mendalam, pada 13 Mei 1875, Staatscommissie resmi
menyerahkan laporan hasil kerjanya kepada Raja. Laporan tersebut tidak hanya
berisi draf utama rancangan KUHP dan draf alternatifnya, tetapi juga dilengkapi
dengan Memorie van Toelichting (MvT) sebagai memori penjelasan filosofis
dan sosiologis dari tiap pasal. Proses legislasi kemudian bergulir ke ranah
birokrasi dan parlemen dengan linimasa sebagai berikut:
26
Juni 1878: Menteri Kehakiman Mr. H. J. Smidt meneruskan draf tersebut kepada Raad
van State (Dewan Negara) untuk meminta nasihat dan pertimbangan hukum.
26
November 1878: Raad van State mengembalikan berkas beserta rekomendasi
resminya, yang ditanggapi oleh Menteri Kehakiman melalui laporan kepada Raja
pada 14 Februari 1879.
22
Februari 1879: Melalui Amanat-Maklumat Diraja (Koninklijke Boodschap),
rancangan undang-undang beserta MvT tersebut resmi diserahkan ke Tweede
Kamer (Majelis Rendah) untuk dibahas.
Di
tingkat Tweede Kamer, dibentuk Commissie van Rapporteurs (Komisi
Pelapor) yang beranggotakan Mr. Godefroi, Patijn, van der Kaay, de Savornin
Lohman, dan des Amorie van der Hoeven. Komisi ini menyerahkan laporan mereka
pada 16 Juli 1880, yang turut memuat nota jawaban pemerintah yang disusun oleh
Menteri Kehakiman yang baru menjabat, Mr. A. E. J. Modderman (mantan anggota Staatscommissie).
Perdebatan intensif dan terbuka mengenai pasal-pasal di dalam draf KUHP ini
berlangsung secara maraton di Tweede Kamer dari tanggal 25 Oktober
hingga 9 November 1880.
Setelah
lolos dari Majelis Rendah, draf beralih ke Eerste Kamer (Majelis
Tinggi). Komisi Pelapor Majelis Tinggi yang diisi oleh Mr. Borsius, van
Akerlaken, Vos de Wael, dan Thooft dengan didampingi langsung oleh Ketua Kamar
Mr. van Eysinga menetapkan laporan akhir mereka pada 16 Februari 1881. Berbeda
dengan Majelis Rendah yang berdebat secara maraton, perdebatan terbuka di Eerste
Kamer berlangsung singkat hanya dalam waktu dua hari, yaitu pada 1 dan 2
Maret 1881. Undang-undang tersebut akhirnya mendapatkan persetujuan Raja pada 3
Maret 1881 (Stbl. no. 35). Kendati demikian, undang-undang ini baru
resmi diberlakukan secara nyata pada 1 September 1886 setelah diterbitkannya
undang-undang penunjang pada 15 April 1886 (Stbl. no. 64).
II.
Dinamika Amandemen Pertama: Undang-Undang 15 Januari 1886 (Stbl. No. 6)
Sebelum
Wetboek van Strafrecht resmi diberlakukan pada September 1886,
pemerintah dan parlemen memandang perlu untuk melakukan penyesuaian materiil
pertama. Proses amandemen ini dimulai ketika Raad van State memberikan
rekomendasi atas draf perubahan pada 22 April 1884. Selanjutnya, pada 6 Mei
1884, Menteri Kehakiman Mr. M. W. Baron du Tour van Bellinchave menandatangani
dan menyerahkan rancangan undang-undang perubahan tersebut kepada Tweede
Kamer.
Commissie
van Rapporteurs di Tweede
Kamer untuk agenda ini digawangi oleh Mr. de Ruiter Zijlker, Beelaerts van
Blokland, van der Kaay, dan van Houten (sementara anggota bernama Des Amorie
van der Hoeven mengundurkan diri sebelum laporan selesai). Mereka menetapkan
laporan pembahasannya pada 15 Juli 1885, yang mencakup dokumen jawaban
pemerintah serta draf perubahan final. Sidang perdebatan terbuka dilaksanakan
pada 27 dan 28 Oktober 1885.
Proses
review di Eerste Kamer dilakukan oleh komisi pelapor yang beranggotakan
Mr. de Sitter, Thooft, Pijnappel, dan Smitz, yang mengukuhkan laporan akhir
mereka pada 9 December 1885 bersamaan dengan nota jawaban pemerintah. Setelah
melalui sidang terbuka pada 14 Januari 1886, undang-undang perubahan pertama
ini resmi disahkan oleh Raja pada keesokan harinya, yakni 15 Januari 1886 (Stbl.
no. 6).
III.
Dinamika Amandemen Kedua: Undang-Undang 31 Desember 1887 (Stbl. No. 265)
Evaluasi
terhadap efektivitas undang-undang pidana terus berjalan pasca-pemberlakuan
resmi KUHP, hingga melahirkan gelombang amandemen kedua di akhir tahun 1887.
Melalui Amanat Diraja tertanggal 8 Oktober 1887, rancangan undang-undang
perubahan beserta MvT diajukan ke parlemen. Terdapat anomali politik hukum yang
cukup menarik pada pengajuan ini, di mana dokumen rancangan undang-undang
tersebut ditandatangani oleh seluruh menteri di dalam kabinet, kecuali Menteri
Koloni (de Minister van Koloniën). Hal ini mengindikasikan adanya
perdebatan sektoral yang alot mengenai ekosistem penerapan hukum pidana
domestik Eropa terhadap wilayah-wilayah koloni luar negeri.
Rancangan
ini segera direspon oleh Tweede Kamer melalui pembentukan komisi pelapor
yang terdiri dari Mr. Greeve, van Osenbruggen, Kerdijk, Brouwers, dan van
Diggelen, yang merampungkan laporannya pada 23 November 1887. Sidang terbuka
pun langsung digelar pada 1 Desember 1887. Di tingkat Majelis Tinggi, komisi
pelapor yang diisi oleh Mr. Insinger, Sickesz, Röell, dan Blijdenstein
menetapkan laporan akhir pada 22 Desember 1887, disusul dengan sidang terbuka
pada 29 Desember 1887. Tepat di penghujung tahun, yakni 31 Desember 1887, Raja
memberikan persetujuan akhir dan meresmikan regulasi tersebut ke dalam Staatsblad
1887 no. 265.
Kronologis
Pembentukan & Perubahan Wetboek van Strafrecht (KUHP) Belanda:
1.
Sejarah
Pembentukan Wetboek van Strafrecht (KUHP Belanda)
Wetboek
van Strafrecht Belanda
pada awalnya ditetapkan berdasarkan undang-undang tertanggal 3 Maret 1881 (Stbl.
no. 35). Proses perancangan hingga pemberlakuannya melewati linimasa sejarah
sebagai berikut:
28
September 1870: Melalui Keputusan Diraja (Koninklijk KB) no. 21 yang
turut ditandatangani oleh Menteri Kehakiman Mr. F. G. R. H. van Lilaar,
dibentuk sebuah Komisi Negara (Staatscommissie) yang bertugas merancang Wetboek
van Strafrecht. Komisi ini beranggotakan Mr. J. de Wal (Ketua), W. F.G.L.
François, A. A. de Pinto (Sekretaris), M. S. Pols, dan A. E. J. Modderman.
18
Maret 1871: Jhr. Mr. G. J. Th. Beelaerts van Blokland diangkat sebagai Adjunct-Secretaris
(asisten sekretaris) komisi berdasarkan Keputusan Diraja no. 11.
30
Mei 1872: Atas permintaannya sendiri, W. F.G.L. François diberhentikan dengan
hormat dari keanggotaan komisi melalui Keputusan Raja no. 20 dan posisinya
digantikan oleh Mr. J. J. Loke.
13
Mei 1875: Staatscommissie resmi menyampaikan laporan hasil kerjanya
kepada Raja, yang disertai dengan draf rancangan KUHP, alternatif rancangan
lainnya, serta memori penjelasan (memorie van toelichting / MvT).
26
Juni 1878: Berdasarkan kuasa dari Raja, Menteri Kehakiman Mr. H. J. Smidt
mengirimkan draf rancangan KUHP beserta penjelasannya kepada Raad van State
untuk mendapatkan rekomendasi.
26
November 1878: Raad van State menyampaikan nasihat dan rekomendasinya
kepada Raja, yang kemudian diteruskan kepada Menteri Kehakiman melalui
keputusan kabinet pada 18 Desember 1878.
14
Februari 1879: Menteri Kehakiman menyampaikan laporan kepada Raja sebagai
bentuk tanggapan atas rekomendasi yang diberikan oleh Raad van State.
22
Februari 1879: Melalui Amanat-Maklumat Diraja (Koninklijke Boodschap),
rancangan undang-undang untuk menetapkan KUHP beserta MvT dikirimkan ke Tweede
Kamer (Majelis Rendah).
16
Juli 1880: Commissie van Rapporteurs dari Tweede Kamer (terdiri
dari Mr. Godefroi, Patijn, van der Kaay, de Savornin Lohman, dan des Amorie van
der Hoeven) menyampaikan laporan mereka. Laporan tersebut memuat jawaban
pemerintah yang disusun oleh Menteri Kehakiman Mr. A. E. J. Modderman serta
mencakup perubahan rancangan KUHP yang diusulkannya.
25
Oktober – 9 November 1880: Pembahasan secara umum dan terbuka mengenai
rancangan KUHP dilakukan di dalam Tweede Kamer.
16
Februari 1881: Commissie van Rapporteurs dari Eerste Kamer (Majelis
Tinggi) yang beranggotakan Mr. Borsius, van Akerlaken, Vos de Wael, dan Thooft
menetapkan laporan mereka. Rapat-rapat komisi ini juga dihadiri oleh Ketua
Kamar, Mr. van Eysinga, dan laporan yang dihasilkan turut memuat jawaban dari
pemerintah.
1
dan 2 Maret 1881: Pembahasan terbuka dilaksanakan di dalam Eerste Kamer.
3
Maret 1881: Undang-undang pengesahan KUHP disetujui oleh Yang Mulia Raja dan
diundangkan dalam Staatsblad 1881 no. 35.
1
September 1886: Setelah melalui masa persiapan, pemberlakuan resmi KUHP
dilaksanakan atas dasar undang-undang tanggal 15 April 1886 (Stbl. no.
64).
2.
Perubahan
Undang-Undang Tanggal 15 Januari 1886 (Staatsblad No. 6)
Perubahan
pertama terhadap undang-undang pengesahan KUHP dilakukan melalui proses
berikut:
22
April 1884: Raad van State memberikan rekomendasi terhadap rancangan
undang-undang perubahan ini.
6
Mei 1884: Atas dasar Amanat Diraja, rancangan undang-undang yang dilengkapi
dengan MvT dan ditandatangani oleh Menteri Kehakiman Mr. M. W. Baron du Tour
van Bellinchave dikirimkan kepada Tweede Kamer.
15
Juli 1885: Commissie van Rapporteurs dari Tweede Kamer menetapkan
laporannya. Komisi ini beranggotakan Mr. de Ruiter Zijlker, Beelaerts van
Blokland, van der Kaay, dan van Houten (salah satu anggota bernama Des Amorie
van der Hoeven telah berhenti dari Kamar sebelum laporan ditetapkan). Laporan
ini memuat jawaban pemerintah dari Menteri Kehakiman, draf perubahan
undang-undang beserta penjelasannya, serta lampiran laporan pertemuan antara
Komisi dan Menteri.
27
dan 28 Oktober 1885: Sidang-sidang terbuka diselenggarakan di dalam Tweede
Kamer.
9
Desember 1885: Laporan sementara dari Commissie van Rapporteurs dari Eerste
Kamer (beranggotakan Mr. de Sitter, Thooft, Pijnappel, dan Smitz)
dikukuhkan menjadi laporan akhir yang juga memuat Jawaban Pemerintah tertanggal
18 Desember 1885.
14
Januari 1886: Rapat/sidang terbuka mengenai perubahan ini diselenggarakan di Eerste
Kamer.
15
Januari 1886: Undang-undang yang memuat perubahan terhadap undang-undang
pengesahan KUHP disetujui oleh Raja dan ditempatkan dalam Lembaran Negara (Staatsblad)
1886 no. 6.
3.
Perubahan
Undang-Undang (Sub-Wijzigingswet) Tanggal 31 Desember 1887 (Staatsblad
No. 265)
Perubahan
berikutnya terhadap undang-undang pengesahan KUHP ditempuh melalui tahapan
sebagai berikut:
8
Oktober 1887: Berdasarkan Amanat Diraja, rancangan undang-undang perubahan
beserta MvT diserahkan kepada Tweede Kamer dengan tanda tangan dari
semua Menteri, kecuali Menteri Koloni.
23
November 1887: Commissie van Rapporteurs dari Tweede Kamer yang
beranggotakan Mr. Greeve, van Osenbruggen, Kerdijk, Brouwers, dan van Diggelen
menyampaikan laporan mereka.
1
Desember 1887: Sidang terbuka mengenai rancangan perubahan ini dilaksanakan di Tweede
Kamer.
22
Desember 1887: Laporan akhir dari Commissie van Rapporteurs Kamar
Pertama (Eerste Kamer) yang beranggotakan Mr. Insinger, Sickesz, Röell,
dan Blijdenstein resmi ditetapkan.
29
Desember 1887: Sidang terbuka diselenggarakan di dalam Eerste Kamer.
31
Desember 1887: Yang Mulia Raja memberikan persetujuan terhadap undang-undang
perubahan ini, yang kemudian ditempatkan di dalam Lembaran Negara (Staatsblad)
1887 no. 265.
Kesimpulan
Perjalanan
legislasi Wetboek van Strafrecht Belanda dari tahun 1870 hingga 1887
mencerminkan sebuah proses kodifikasi hukum yang sangat teliti, dinamis, dan
penuh kehati-hatian. Keterlibatan aktif para yuris terkemuka dalam Staatscommissie,
integrasi yang kuat antara memori penjelasan (MvT) dengan draf pasal, serta
mekanisme kontrol parlementer yang berlapis di Tweede Kamer dan Eerste
Kamer memastikan bahwa produk hukum yang dihasilkan memiliki legitimasi
yuridis yang kokoh. Munculnya amandemen pada tahun 1886 and 1887 membuktikan
bahwa hukum pidana kodifikasi tersebut bersifat adaptif terhadap dinamika tata
negara dan perkembangan sosial politik, termasuk adanya batas tegas
(sebagaimana terlihat dari anomali absennya Menteri Koloni) antara hukum
domestik dan hukum wilayah jajahan.

0 Komentar